Hukum Menyontek

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.
Mbak Zulia,
Saya adalah salah satu siswi kelas III sebuah SMU Negeri di Bandung. Ada sedikit masalah yang ingin saya sampaikan. Gini lho Mbak, mulai kelas III ini di sekolah sering banget dilakukan evaluasi belajar. Tujuannya ya biar kita-kita termotivasi belajar sekaligus mengingat-ingat kembali pelajaran mulai dari kelas satu.
Cuma Mbak, yang bikin saya kesel and sebel hampir setiap evaluasi, ulangan atau ujian banyak teman-teman yang menyontek. Sedihnya lagi, nilai ujian mereka bagus-bagus, sedangkan saya biasa-biasa saja. Akibatnya saya sering merasa minder. Gimana nih Mbak solusinya. Selain itu sebetulnya gimana sih hukum menyontek dalam Islam. Thank’s berat atas jawaban Mbak Zulia.
Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

Uci
Bandung

 

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.
Adik Uci di Bandung,
Alhamdulillah, kini Adik sudah di kelas III SMU. Tidak lama lagi Insya Allah akan menjadi mahasiswi. Begitu Adik naik ke kelas III, di banyak sekolah biasanya memang mulai dilakukan pembelajaran secara lebih intensif. Bahkan ada yang memulainya jauh lebih awal. Tujuannya jelas, karena di kelas tiga inilah nasib Adik dipertaruhkan. Artinya mau tetap terus bertahan di sekolah atau keluar dengan hasil kelulusan yang memuaskan. Persiapan EBTA atau EBTANAS dan juga tes-tes masuk perguruan tinggi memang memerlukan persiapan yang matang. Di kelas III inilah biasanya digembleng habis-habisan. Untuk menghadapi itu semua, diperlukan bekal kecepatan dan kecermatan dalam mengerjakan soal-soal dan sekaligus kesiapan mental. Tak jarang beberapa sekolah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan atau pembekalan-pembekalan untuk persiapan mental ini. Maka dari itu sangatlah wajar jika sering dilakukan evaluasi, ulangan atau ujian. Dengan banyak latihan siswa akan terbiasa dan terampil mengerjakan soal-soal.

Adik Uci,
Menyontek ketika ulangan atau ujian merupakan kebiasaan buruk yang hampir sebagian besar dilakukan oleh siswa. Tak terkecuali teman-teman Adik. Banyak hal kenapa siswa menyontek. Tapi sebab utama biasanya karena dia tidak belajar sehingga tidak siap menghadapi ulangan atau ujian. Selain itu banyak siswa yang maunya enak saja, tanpa usaha keras tapi ingin mendapat hasil yang bagus. Mbak rasa model siswa yang kedua inilah yang lebih banyak. Sikap semacam ini tentu saja bukan sikap seorang pelajar yang baik. Menyontek jelas akan merugikan diri sendiri. Mungkin saja saat ini mereka akan mendapatkan nilai yang bagus, tapi kerugian besar akan mereka dapatkan kelak. Apalagi jelas menyontek adalah perbuatan yang tidak terpuji, yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Bukankah menyontek sama dengan berbohong? Berbohong pada diri sendiri, guru, teman bahkan orang tua. Karena nilai ujian dari hasil menyontek adalah bukan hasil kerja kerasnya sendiri. Ada satu hal lagi yang mesti Adik Uci ingat, walaupun ketika menyontek tidak ada yang tahu, tapi Allah Yang Maha Mengetahui akan melihat setiap apa yang kita perbuat, apapun perbuatan kita, yang baik maupun yang buruk. Dan semuanya itu akan dicatat oleh dua malaikat yang senantiasa mengikuti kita untuk nantinya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Hujuraat:18).

Nah, kalau sudah tahu keburukan-keburukan menyontek, Mbak rasa Adik tidak perlu merasa minder. Justru sebaliknya, Adik Uci harus merasa bangga karena nilai yang Adik dapat adalah benar-benar murni dari usaha adik sendiri. Disamping itu Adik juga terlepas dari perbuatan yang dilarang dalam Islam. Gunakan situasi yang seperti ini untuk lebih memotivasi Adik belajar lebih giat. Tanamkan pada diri Dik Uci, bahwa tanpa menyontek pun akan mendapatkan hasil yang bagus. Insya Allah Adik akan lebih berhasil dari pada mereka. Bukankah di saat EBTA, EBTANAS atau tes masuk Perguruan Tinggi pengawasannya sangat ketat. Sekali ketahuan ada yang berbuat curang, akan langsung dikeluarkan dari ruangan dan dianggap gugur mengikuti ujian. Buat mereka yang biasa menyontek, pasti bakal menyesal kelak.q

Dra. (Psi) Zulia Ilmawati

sumber : Majalah Permata