Perintah “Nabi” dari Alam Mimpi

Pertanyaan :

JURU KUNCI SAYYIDINA MEKKAH BERMIMPI BERTEMU RASULULLAH SAW BELIAU BERPESAN ! KUATKAN AQIDAH DALAM BERIBADAH KARENA DUNIA INI SUDAH GOYAH DAN TUA.

Mas td dpt sms spt itu, nomor tdk kenal. Bener gak mas?

Dalgiri, 08190400XXXX, 13 Juli 2007

Jawaban :

Pengakuan siapa saja di masa sekarang ini yang mengaku bertemu Rasulullah SAW sama sekali tidak bisa diyakini kebenarannya. Orang yang pernah melihat Rasulullah SAW adalah generasi para sahabat, sementara pada masa sekarang ini tidak ada yang pernah bertemu Rasulullah SAW. Lantas, bagaimana mungkin orang yang bermimpi itu bisa menyimpulkan bahwa sosok yang ditemuinya dalam mimpi adalah Rasulullah SAW? Orang yang bermimpi itu hanya menduga-duga saja, tidak bisa dijamin kebenarannya alias diragukan.

Perintah dari Mimpi, Perlukah Dilaksanakan?

Mimpi bukanlah sumber hukum Islam. Sumber hukum Islam adalah Al Quran, Al Hadis, dan yang disahkan keduanya yaitu Ijma’ sahabat dan qiyas. Dalam mempelajari hadis kita akan menemukan istilah sanad dan perawi. Jika perintah itu berasal dari mimpi bertemu “nabi”, lantas bagaimana sanad dan perawinya? Tentu sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan dari sudut pandang ilmu hadits. Bahkan, kata-kata dari mimpi itu tidak bisa dimasukkan dalam kitab hadis karena memang bukan hadis. Oleh karena itu, perintah dari mimpi tidak perlu dilaksanakan.

Apabila perintahnya adalah kebaikan, misalnya memerintahkan untuk sholat, berzakat, naik haji, dan lain sebagainya, maka kita melaksanakannya bukan karena berdasar mimpi, tetapi karena memang ada perintah itu di dalam Al Quran dan hadis. Bukan karena mimpi.

Apabila perintahnya adalah sesuatu yang bertentangan dengan hukum Islam, misalnya memerintahkan untuk menyembah yang selain Allah, berzina, mencuri, dan lain sebagainya, maka wajib ditinggalkan.

Jika perintah dari mimpi-mimpi setiap orang kita anggap sebagai sumber hukum Islam, maka akan rusaklah ajaran agama Islam ini. Setiap orang bisa saja mengaku bermimpi nabi yang mengatakan ini-itu. Akan timbul banyak aliran sesat di tengah-tengah masyarakat.

Saat ini memang sering ditemukan adanya sms dan selebaran yang memerintahkan ini-itu. Katanya perintah itu berasal dari seseorang yang bermimpi bertemu nabi. Kita disuruh menyebarluaskan perintah itu kepada sekian orang. Kalau kita tidak menyebarkannya, maka kita akan sial. Jika anda menemukan sms dan selebaran yang seperti itu, nasihatilah yang memberikannya kepada anda. Jika anda tidak tahu dari siapa, maka buanglah jauh-jauh. Anda tidak perlu menyebarkannya karena berarti anda ikut menyesatkan banyak orang. Berarti pula anda ikut bertanggung jawab alias menanggung dosanya.

Semoga anda tidak bingung lagi dengan sms/selebaran tidak bertanggung jawab seperti pembahasan di atas. (Farid Ma’ruf, www.anaksholeh.net)

Yogyakarta, 17 Juli 2007

Related Article :

1. Bertemu dengan Nabi