Bagaimana Hukum Obat Mengandung Alkohol dalam Islam?

Polemik ditengah umat islam mengenai status hukum obat mengadung alkohol hingga kini masih berlangsung. Banyak umat Islam yang beranggapan boleh menggunakan, namun tidak sedikit juga yang mengatakan haram. Seperti apa sebenarnya hukum obat beralkohol dalam Islam? Simak tulisan yang berjudul asli Obat Mengandung Alkohol ini.

=========================

SOAL : 

Saat ini obat yang mengandung alkohol semakin banyak diproduksi. Sedangkan alhokol itu sendiri haram dikonsumsi walaupun sedikit. Bagaimana hukum mengkonsumsi obat tersebut, apakah hal itu diperbolehkan? (Asy-Syaukani, Bogor)

 

JAWAB :

Ada perbedaan pendapat (khilafiyah) di kalangan ulama, mengenai hukum berobat (at-tadaawi/al-mudaawah) dengan benda najis dan haram. Termasuk dalam hal ini berobat dengan obat yang mengandung alkohol (etanol), sebab alkohol adalah haram dan najis. Ada yang mengharamkan, seperti Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Ada yang membolehkan seperti ulama Hanafiyah. Ada yang membolehkan dalam keadaan darurat, seperti Yusuf Al-Qaradhawi. Ada pula yang memakruhkannya, seperti Taqiyuddin An-Nabhani. Pendapat yang rajih (kuat) menurut pengasuh, adalah yang memakruhkannya.

Beer, salah satu minuman yang mengandung alkohol
Beer, Contoh Minuman Beralkohol, sumber usplash

Terdapat dua kelompok hadits yang nampak bertentangan (ta’arudh) dalam masalah ini. Di satu sisi, ada hadits-hadits yang melarang berobat dengan benda yang haram dan najis, misalnya hadits Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat bagimu pada apa-apa yang diharamkan atasmu.” (HR Bukhari dan Baihaqi).

Di sisi lain, ada hadits-hadits yang membolehkan berobat dengan benda najis dan haram. Misalnya hadits bahwa Nabi SAW membolehkan suku ‘Ukl dan ‘Uraynah berobat dengan meminum air kencing unta (HR Muslim) (Lihat Imam Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, hamisy [catatan pinggir] kitab Tafsir wa Bayan Kalimat Al-Qur`an, karya Syaikh Hasanain M. Makhluf, hal 168). Hadits ini membolehkan berobat dengan najis, sebab air kencing unta itu najis.

Dalam hadits lain dari Anas RA, Rasulullah SAW memberi keringanan (rukhsah) kepada Zubair bin Al-‘Awwam dan Abdurrahman bin Auf untuk memakai kain sutera karena menderita penyakit gatal-gatal. (HR Bukhari dan Muslim) (Lihat Imam Nawawi, Terjemah Riyadhus Shalihin, I/623). Hadits ini membolehkan berobat dengan benda yang haram (dimanfaatkan), sebab sutera haram dipakai oleh laki-laki, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits lain dalam riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.

Di sinilah lalu Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani mengkompromikan (men-jama’) kedua kelompok hadits di atas. Menurut An-Nabhani, sabda Nabi SAW untuk tidak berobat dengan yang haram tidak otomatis menunjukkan keharaman, tapi sekedar menunjukkan tuntutan (thalab) untuk meninggalkan perbuatan. Sedangkan dua hadits di atas yang membolehkan berobat dengan benda najis dan haram, oleh An-Nabhani dijadikan qarinah (petunjuk) yang memperjelas sifat tuntutan tersebut. Kesimpulannya, tuntutan tersebut adalah tuntutan (thalab) yang tidak tegas (ghairu jazim), sehingga hukum syara’ yang diistinbath adalah makruh, bukan haram (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, III/110).

Dengan demikian, berobat dengan suatu materi yang zatnya najis, atau zat yang haram untuk dimanfaatkan (tapi tidak najis), hukumnya adalah makruh. Jadi, berobat dengan obat yang mengandung alkohol adalah makruh, tidak haram. Wallahu a’lam [ ]

Yogyakarta, 9 Juni 2005

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

=====================

Baca juga :

Terimakasih sudah membaca artikel mengenai status hukum obat yang mengandung Alkohol dalam Islam. Tugas kita adalah mencari hukum yang paling kuat untuk kemudian kita adopsi atau tabanni. Nah, jika dirasa aritkel ini penting untuk diketahui oleh orang lain, silahkan menggunakan tombol share ke berbagai sosial media yang tersedia. Jazakumullah khair.

Leave a Reply