Bundle Teror dan Phobia di Tengah Kita

Bundle Teror dan Phobia di Tengah Kita

Jahat, biadab, tak berperasaan. Kecaman mengalir deras menanggapi aksi terror yang terjadi di bulan Mei ini. Terhitung ada 5 aksi terror yang terjadi. Terror di Mako Brimob, teror bom di 3 gereja di Surabaya, bom di rusunawa Wonocolo Sidoarjo, bom di Porestabes Surabaya, dan penyerangan terduga teroris ke Mapolda Riau. Korban pun berjatuhan, puluhan nyawa melayang. Duka mendalam bagi korban dan keluarga korban. Tak ada satu manusia berperasaan yang merestui tindakan biadab ini, apapun agamanya.

Terorisme Bukan Islam

Semuanya sepakat bahwa terorisme tidak memiliki agama. Karena agama apapun tidak ada yang mengajarkan terror. Namun, reaksi nyata yang terjadi di tengah-tengah masyarakat berkata lain. Pasca dipublish foto pelaku bom terror 3 gereja, foto keluarga muslim, lengkap dengan khimar, gamis, celana cingkrang, jidat hitam, ditambah kesaksian bahwa perempuan pelaku bom memakai cadar. Mulailah phobia muncul. Ketakutan berlebihan pada atribut muslim, seperti khimar panjang, cadar, celana cingkrang. Di media sosial pun ramai video reaksi islamphobia. Diantaranya, seorang santri yang dipaksa membuka kardus bawaannya oleh petugas keamanan lengkap dengan senapannya, juga seorang muslimah bercadar yang dipaksa turun dari bus. Ditambah status seorang pria yang ingin menelanjangi perempuan bercadar untuk memastikan bawa bom atau tidak, walaupun ia sudah meminta maaf setelah diserbu netizen (manaberita.com, 19/5/2018).

Ilustrasi Terorisme, sumber unsplash
Ilustrasi Terorisme, sumber unsplash

Muncul pertanyaan dalam benak, kenapa islam yang menjadi pihak tertuduh? Kenapa orang menjadi mudah untuk menjeneralisasi? Ketika seorang muslim mencuri, lantas seluruh muslim yang berpenampilan sama juga pasti mencuri? Bagaimana jika itu nasrani atau yahudi atau agama lainnya? Konyol sekali jika generalisasi ini dijadikan landasan berpikir. Terlepas dari berbagai spekulasi tentang terror ini, korban aksi terorisme ini nyata, keluarga dan kerabatnya tengah berduka. Islamphobia pun nyata, kembali menyeruak di tengah-tengah umat.

Syi’arkan Islam!

Lantas apa yang harus kita lakukan? Sebagai muslim, kita seharusnya menyebarkan islam. Walau kita bukan lulusan perguruan tinggi agama, kita tetap berkewajiban menyi’arkan Islam. Karena Allah mewajibkan dakwah bukan hanya pada mereka yang bergelar sarjana agama atau jebolan pesantren. Dakwah wajib bagi semua muslim, yang kaya atau yang miskin, yang sekolah atau yang tidak, perempuan atau laki-laki. Tugas kita menyambung estafet perjuangan Rasul dan para sahabat, untuk menunjukkan keindahan dan keagungan islam ke tengah-tengah umat.

Sejarah mencatat tinta emas keagungan Islam. Bagaimana mulianya Rasul dan para sahabat memperlakukan muslim dan non muslim. Rasul saw bersabda, “Barang siapa menyakiti ahlu dzimmah (non muslim), maka ia sama dengan menyakiti saya”. “Siapa yang membunuh orang kafir mu’ahid, ia tidak dapat mencium bau harum surga, padahal surga dapat dicium dari jarak empat puluh tahun”. Jika Rasul saja melarang untuk berbuat tidak adil, berbuat jahat non muslim apalagi membunuh. Stop stigma negatif ajaran Islam, stop kriminalisasi ajaran Islam dan symbol-simbolnya, karena #TerrorismeBukanIslam, #IslamSelamatkanNegeri, dan #DakwahTanpaKekerasan.
Wallahu’alam bish shawab

Oleh: Fatimah Azzahra, S.Pd (Aktivis Dakwah)

Leave a Reply