Haqîqah dan al-Majâz

Pertanyaan :

Bukankah “yuhyî al-‘izhâm – menghidupkan tulang belulang-“ dalam firman Allah SWT:

قَالَ مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (TQS Yasin [36]: 78)

Bukankah itu dari sisi majaz, dimana menyebutkan sebagian dan yang diinginkan adalah keseluruhan (ithlâq al-juz’I wa irâdatu al-kulli)?

Semoga Allah memberi Anda balasan yang lebih baik dan melanggengkan Anda sebagai sandaran dan aset untuk umat Islam yang agung. Dan semoga Allah menguatkan Anda dengan pertolongan yang gemilang dari sisinya SWT.

Jawaban :

Tidak boleh membawa kepada pengertian majaz (kiasan) kecuali jika al-haqîqah terhalang. Misalnya:

يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ

mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. (TQS al-Baqarah [2]: 19)

Ashâbi’ahum (jari-jari mereka) bermakna majaz pada ujung-ujung jari sebab jari-jari menurut pengertian hakiki, yakni jari-jari penuh, tidak bisa dimasukkan ke telinga. Akan tetapi hanya ujung jari yang bisa diletakkan di telinga (untuk menyumbat telinga).

Contoh lain:

وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا

Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur”. (TQS Yusuf [12]: 36)

Di sini al-khamr adalah majaz mengenai anggur. Sebab khamr tidak diperas, berdasarkan pengertian hakiki. Akan tetapi yang diperas adalah anggur yang darinya dibuatlah khamr …

Adapun jika tidak terhalang makna al-haqîqah maka tidak boleh menyengaja kepada majaz. Maka firman Allah SWT:

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (TQS Yasin [36]: 78)

Bagi Allah SWT, pengertian secara hakiki (al-haqîqah) menghidupkan tulang belulang, tidak terhalang. Karena itu kami katakan “yuhyî –menghidupkan- …” bermakna hakiki dan bukan majaz. Kita pahami darinya bahwa tulang belulang orang yang sudah mati adalah juga mati.

Saudaramu

‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

04 Rajab 1434

14 Mei 2013

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2013/05/18/jawab-soal-seputar-haji-orang-yang-sudah-lanjut-usia-dan-haqiqah-dan-al-majaz/

Rangkaian Jawaban Syaikh al-‘Alim ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir Terahdap Pertanyaan-Pertanyaan di Facebook

NB : aslinya dalam satu naskah ada dua pertanyaan dan jawaban. Kami pisah agar sesuai kategori/tema