Hukum Penggunaan Kulit Binatang

Islam adalah suatu agama yang mengatur segala aspek kehidupan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad untuk mengatur hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama manusia, alam semesta, dan Tuhannya. Islam mengatur semua hal seperti: Menutup aurat, Cara shalat, Cara berpuasa, Cara berbicara yang baik, Cara makan, DLL

Salah satunya adalah cara kita berpakaian. Seperti apa pakaian yang boleh kta pakai? berbahan dari apa? dll. Tapi pada saat ini banyak sekali pakaian dan aksesoris yang terbuat dari kulit binatang. bahkan sudah ada cara merawat tas kulit dengan cara khusus.

hukum penggunaan kulit binatang
Berbagai macam produk kulit buaya Sumber:https://www.antaranews.com/

Tapi sesungguhnya apakah hukum dari menggunakan kulit binatang sebagai aksesoris dalam islam? apakah boleh atau tidak? untuk mengetahui lebih lanjut mari kita simak bersama mengenai hukum menggunakan kulit binatang sebagai aksesoris seerti tas,jaket dll.

Baca Juga : Menjamak Sholat karena Hujan, Bolehkah dalam Islam?

Hukum Menggunakan Kulit Binatang Sebagai Aksesoris

Kulit binatang yang halal dimakan dan telah disembelih maka boleh dimanfaatkan, seperti untuk bahan sepatu, sabuk, dan semacamnya. Karena menggunakan benda ini termasuk pemanfaatan yang Allah bolehkan untuk kita. Kulit yang dimaksud sepertikulit kambing, kulit sapi, kulit kerbau, kulit unta dan berbagai macam kulit dari hewan yang halal lainya

Sedangkan kulit hewan yang haram, atau hewan yang mati tidak disembelih, atau hewan yang diperselisihkan kehalalannya, seperti binatang buas, para ulama berselisih pendapat tentang hukum memanfaatkan kulitnya. Mengingat adanya beberapa hadis yang menunjukkan bolehnnya menggunakan kulit hewan semacam ini dan ada hadis yang menunjukkan terlarangnya memanfaatkan kulit tersebut.

Hukum penggunaan kulit binatang
Kulit buaya Sumber: Pinterest

Disebutkan dalam riwayat Abu Daud dan Turmudzi, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kulit binatang buas. Demikian pula, diriwayatkan Abu Daud dan Nasa’i bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakai kulit binatang buas dan menunggangi binatang buas.

أَنْشَدُكَ بِاللهِ: هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ نَهَى عَنْ لُبُوْسِ جُلُوْدِ السِّبَاعِ وَالرُّكُوْبِ عَلَيْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ

“Aku bersumpah dengan nama Allah bukankah engkau tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari mengenakan kulit hewan buas dan menunggangi (menaiki) di atasnya?” Mu’awiyah menjawab, “Iya.” (HR. Abu Daud, 4131; An-Nasai, 7:176). Hadits ini sahih memiliki syawahid atau banyak penguat yang saling menguatkan

As-Syaukani dalam Nailul Authar mengatakan, ‘Hadis-hadis ini melarang memanfaatkan kulit binatang yang tidak boleh dimakan, (meskipun) dalam keadaan sudah kering. Berdasarkan keumuman hadis, kulit hewan yang haram dimakan juga tidak bisa suci dengan disembelih atau disamak.’

Macam Macam Kulit Binatang

  • Pertama, kulit yang suci, baik disamak maupun tidak disamak. Ini adalah jenis kulit hewan yang halal dimakan dan telah disembelih.
  • Kedua, kulit hewan yang tidak bisa menjadi suci, baik setelah disamak ataupun sebelum disamak, hukumnya tetap najis. Ini adalah jenis kulit hewan yang tidak halal dimakan, seperti babi.
  • Ketiga, kulit hewan yang bisa suci setelah disamak dan tidak bisa menjadi suci, jika belum disamak. Ini adalah kulit hewan yang boleh dimakan, tapi mati tanpa disembelih (bangkai). Seperti bangkai kambing, dll.

Baca Juga : Hukum Menjual Harta dengan Manfaat Menurut Islam

Hukum Jual Beli Kulit Binatang

Dalam buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” disebutkan, “Larangan menggunakan kulit hewan buas bukanlah karena kulitnya dihukumi najis. Akan tetapi, karena hal itu menyerupai orang-orang kafir dan dapat mendatangkan keangkuhan. Dengan demikian apakah boleh menjual belikan kulit binatang buas, seperti kulit ular dan buaya yang telah disamak terlebih dahulu? Para ulama dalam madzhab Hanafi dan Maliki membolehkan menjualnya, dan uang hasil penjualannya halal.

hukum Penggunaan kulit binatang
Proses penyamakan kulit sapi dan kambing Sumber:https://jatim.antaranews.com/

Namun, para ulama madzhab Syafii dan Hambali mengharamkan jual beli kulit hewan tersebut, bukan karena najisnya. Akan tetapi diharamkan karena penggunaan kulit tersebut dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, tidak boleh dijual dan hasil penjualannya haram. Ini merupakan pendapat terkuat karena pendapat ini menggabungkan dalil-dalil yang membolehkan dan melarang penggunaan kulit binatang buas.

Kesimpulan

  • Menggunakan aksesoris dari kulit hewan yang halal dimakan seperti dari kulit sapi, hukumnya boleh. Kalau kulitnya dari bangkai sapi—misalnya–, jadi suci dengan cara disamak.
  • Kulit anjing dan babi tetap najis menurut madzhab Syafii meskipun disamak karena najisnya adalah najis ‘ain yaitu najis pada bendanya, maka tidak bisa jadi suci dengan cara apa pun sebagaimana najisnya bangkai, darah, kencing, dan semacamnya. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 1:47.
  • Kulit hewan yang haram dimakan seperti kulit ular dan kulit buaya itu suci menurut kalangan ulama yang menganggap semua kulit hewan yang disamak jadi suci.
  • Kulit dari hewan buas seperti buaya dan ular kalaupun dianggap suci setelah disamak, tetapi haram digunakan berdasarkan hadits Al-Miqdam bin Ma’dikarib.

Demikian ulasan kami mengenai hukum penggunaan kulit binatang sebagai aksesoris fashion. Semoga dengan artikel di atas dapat membantu kita semua untuk mendekatkan diri kepada sang pemilik kehidupan.

Bagi anda yang ingin menyelenggarakan Seminar, rapat, kumpul alumni melalui virtual anda dapat menggunakan paket seminar kit. Semoga bermanfaat selamat membaca dan terimakasih.

Leave a Comment