Terorisme : Stigmatisasi Atas Islam dan Pembunuhan Karakter Keluarga Bertakwa*

Terorisme : Stigmatisasi Atas Islam dan Pembunuhan Karakter Keluarga Bertakwa*

Pembaca Muslim yang dirahmati oleh Allah SWT. Duka kembali menyelimuti negeri muslim terbesar di dunia yakni Indonesia. Sejumlah aksi teror terjadi di beberapa titik. Dalam pemberitaan yang muncul, kuat sekali aroma stigmatisasi dan opini terhadap pemahaman tertentu yang dikaitkan dengan Islam serta keluarga muslim. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Simak artikel berikut.

==========

Terorisme tak pernah mengenal Tuhan. Yang ia tau hanyalah memenuhi titah kepentingan.

Duka mendalam teruntuk korban kejahatan kemanusiaan di Surabaya kemarin (13/05/2018). Ledakan bom tersebut terjadi di tiga titik yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, GKI di jalan Diponegoro, dan GPPS Sawahan di Jalan Arjuna. Malam harinya, ledakan juga terjadi di salah satu rusunawa, Sidoarjo. Sebagaimana dilaporkan Antara, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera menjelaskan, tujuh orang meninggal akibat ledakan di Gereja Santa Maria, tiga korban meninggal di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno dan tiga korban meninggal di Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro. Selain itu, 43 orang luka-luka.

Membunuh orang tanpa alasan yang dibenarkan itu kriminal, terlebih di tempat peribadatan. Setiap muslim pastilah mengecam tindakan brutal ini. Namun, kutukan yang lebih besar lagi layak ditujukan bagi sesiapa saja yang menjadi actor politik dan intelektual dibelakangnya. Begitu juga, siapa pun yang turut menggoreng isu ini untuk menjatuhkan laju dakwah Islam kaffah.

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”(QS. Al Maidah: 32).

Terorisme Keluarga

Salah satu sorotan keji dari teror Surabaya yaitu terkait pelakunya . Masif diberitakan pelakunya adalah satu keluarga, yaitu ayah, ibu dan keempat anaknya. Dilansir dalam www.kompas.com , Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam keras tindakan melibatkan anak dalam aksi terorisme semacam itu. Ketua KPAI Susanto mengungkapkan, berkaca dari kasus ini, perlu diperhatikan pula potensi indoktrinasi terorisme kepada anak. Namun, dia mengakui, akan sulit dicegah apabila pelaku indoktrinasi kepada anak adalah orangtua sendiri.

Benar, ini adalah kekejian yang nyata. Hanya saja, umat layak jeli bahwa narasi terorisme sarat keberpihakan. Framing negatif selalu dilekatkan kepada Islam dan kaum muslimin. Bagaimana massif diopinikan melalui media-media mainstream bahwa terorisme dijiwai oleh ruh jihad, pelakunya adalah ia yang berjenggot, bercelana ‘congklang’, berjidat hitam, istrinya berhijab syar’i dan bercadar. Bahkan pernah secara keji, al-Quran dijadikan sebagai barang bukti.

Ilustrasi Terorisme, sumber unsplash
Ilustrasi Terorisme (unsplash.com)

Dan sekarang, framing jahat tengah membidik keluarga bertakwa. Dalam keluarga, ketika terjadi penanaman iman yang kokoh dan keberpegangteguhan terhadap syariat distigmatisasi sebagai indoktrinasi terorisme. Sebelumnya, direktur BNPT, Birgjen Pol Hamli ketika menjadi narasumber dalam acara Seminar Pencegahan Radikalisme, Ektrimisme dan Radikalisme Bagi Masyarakat Desa dan Pengoptimalan Peran Kelompok Perempuan di Kulon Progo, DIY menyampaikan terkait kuatnya keterlibatan perempuan dan anak-anak dalam kelompok radikalis, ekstrimis dan teroris. Oleh karenanya, menurutnya perempuan memiliki peran penting di keluarga untuk menangkal paham tersebut. Direktur Mitra Wacana, Rindang Fariha pun mengaminkan hal tersebut.

Padahal, radikalisme, ekstrimisme dan terorisme seringkali dilekatkan sebagai bingkai ketika mereka menilai Islam kaffah. Sementara itu, Islam moderat dan liberal sering ditampilkan sebagai kanal islam yang mengesankan damai. Sekalipun sejatinya menikam dan mengobok-obok potret rahmat Islam itu sendiri.

Pembunuhan Karakter

Sungguh ketika ini terus dibiarkan, maka yang terjadi adalah pembunuhan karakter keluarga bertakwa. Semakin bertakwa suatu keluarga akan kian diwaspadai. Sebaliknya, semakin liberal dan jauh keluarga dari ajaran Islam maka akan kian disanjung dan dirangkul.

Hal ini sangatlah berbahaya. Mengingat pada saat yang sama keluarga saat ini tengah meregang nyawa melawan gempuran tiada ampun dari liberalisme. Pergaulan bebas, klithih, kriminalitas pelajar, narkoba pelajar menyerang keluarga Indonesia setiap waktunya. Ketika Negara bungkam dan cenderung membiarkan karena liberal telah menjiwa, maka keluarga lah tameng terakhir. Di tengah kelemahannya, keluarga bertakwa pun kian menjadi tersalah akibat fitnah keji terorisme keluarga ini. Ironi di negeri muslim terbesar ini, betapa sulit sekalipun sekedar untuk mengamalkan satu ayat ini,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

*) Oleh Mayangsari Rahayu (Pemerhati Perempuan, Keluarga, dan Generasi)

==========

Demikian pembahasannya, silahkan share guna menebar manfaat!

 

Baca juga artikel berikut :

Leave a Reply