Perempuan Sebagai Kunci Sukses Edukasi di Era Revolusi Industri 4.0

Perempuan Sebagai Kunci Sukses Edukasi di Era Revolusi Industri 4.0

Pembaca Muslim yang dirahmati oleh Allah SWT. Islam adalah agama yang memuliakan perempuan. Disaat yang sama, aturan hidup selain Islam membentuk perempuan tidak sebagaimana fitrahnya. Apa maksudnya? Simak artikel berikut.

==========

Ibu ibarat sekolah, apabila kamu persiapkan dengan baik, berarti kamu mempersiapkan bangsa yang baik akarnya. Ibu adalah guru dari semua guru yang utama, pengaruhnya menjangkau seluruh dunia.

Sebagaimana yang disampaikan dalam kutipan syair Arab di atas, dari rahim perempuan yang bernama RA. Mangkorowati lahirlah sosok negarawan hebat, dialah pangeran Diponegoro. Dari sang ibunda, pangeran Diponegoro mendapatkan silsilah wali sanga, yakni Sunan Ampel. Ditambah lagi, sejak usia 7 tahun, pengasuhan sang pangeran juga dibantu oleh nenek buyut beliau yaitu, Ratu Ageng Tegalrejo (keturunan Sultan Bima di Sumbawa) yang terkenal akan keberanian dan kesholihannya.

Di dalam buku ‘Kuasa Ramalan (Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855)’, Peter Carey menyebutkan bahwa setelah Kesultanan Yogyakarta terbentuk pada tahun 1755, Ratu Ageng menjadi panglima pasukan kawal istimewa perempuan atau semacam korps “Srikandi” (putri) kerajaan, satu-satunya barisan pasukan militer yang membuat Marsekal Herman Willem Daendels terkesan ketika berkunjung ke keraton Yogya pada Juli 1809. Oleh karenanya, tak heran jiwa keberanian dan kepemimpinan-religius melekat pada diri Diponegoro muda. Demikian pula sangatlah wajar jika perang Diponegoro menjadi salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Bahkan, karena level keberpengaruhan peperangan ini meliputi seluruh wilayah Jawa, maka perang ini disebut juga sebagai Perang Jawa.

Kisah di atas adalah salah satu bukti nyata dari sekian banyak profil istimewa tokoh negeri ini. Lebih dari sekolah. Perempuan lah kunci keberhasilan edukasi generasi. Termasuk ketika kita berada di tengah era Revolusi Industri 4.0 saat ini. Dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution, Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum menyampaikan bahwa era ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Segala bentuk kecanggihan, efisiensi waktu, kemudahan, kecepatan menjadi nilai lebih yang menggiurkan. Akan tetapi, di sisi lain pekatnya aroma hegemoni Kapitalisme global juga dapat kita rasakan.

Benny Sitorus, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD), dalam tulisannya yang berjudul “ Revolusi Industri 4.0 dan Arah Perkembangan Dunia” menyampaikan bahwa, negara-negara seperti kebingungan menjawab perkembangan jaman. Jangankan untuk menaati prinsip saling menghormati kedaulatan politik maupun teritorial, ia tidak mampu menjawab persoalan yang diakibatkan perkembangan teknologi. Alih-alih bersepakat menemukan cara menangani kekuatan kapitalisme agar menggunakan perkembangan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia, justru negara kalah terhadap kekuatan kapitalisme baru ini. Kita melihat bahwa para venture capitalist seperti google mencurangi kewajiban perpajakan disemua negara. Bagaimana aplikasi online jasa angkutan seperti gojek, uber, maupun grab, mengangkangi Undang-Undang Transportasi. Ide sharing asset yang dimoneterisasi lewat perkembangan teknologi mendapat legitimasi di tengah kebutuhan akan pekerjaan dan tarif yang lebih murah. Kendati studi, misalnya studi Annette Bernhardt dari University of California-Berkeley, menegaskan bahwa sistim ini sangat merugikan pemilik aset seperti kendaraan karena posisi tawar yang rendah. Kita masih berada di awal revolusi. Kita tidak tahu ke arah mana dunia bergerak sepenuhnya. Akankah para venture capitalist akan sama seperti perusahaan multi nasional (MNCs) di era sebelumnya yang menundukkan negara di bawah kuku kekuasaannya. Atau venture capitalist ini bahkan lebih buas dari MNCs? (www.berdikarionline.com , 19 Februari 2018)

Ilustrasi Perempuan Kunci Sukses Edukasi di Era Revolusi Industri 4.0
Ilustrasi industri (unsplash.com)

Tentunya diperlukan kecerdasan bersikap dalam menghadapi perkembangan dunia ini. Jangan sampai justru generasi negeri ini tanpa disadari bergotong-royong masuk dalam skema penjajahan ekonomi gaya baru. Disinilah relevansi besarnya peran perempuan dalam menyelamatkan bangsa ini. Tak selalu dengan mendorong para ibu ‘latah’ terjun dalam dunia industry sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise dalam Seminar Nasional “Peran Perempuan dalam Mendidik Generasi Era Revolusi Industri 4.0” di Universitas Negeri Yogyakarta, Senin (23/4/2018). Jika tidak siap, hal ini justru akan memunculkan masalah baru yang lebih kompleks, seperti disharmonisasi keluarga, klithih pelajar, maraknya pernikahan dini yang disebabkan oleh seks bebas remaja, jeratan narkoba di tengah kalangan muda nan produktif dan sederet potret suram lainnya sebagaimana terjadi kini.

Sumbangsih langsung ibu jusru dapat dirasakan melalui optimalisasi ‘peran domestic’ nya. Besarnya peran ibu dalam membentuk kepribadian unggul pada generasi sudah banyak disadari oleh banyak pihak, mulai dari grass root sampai pemangku kebijakan publik negeri ini. Menteri Yohana mendorong agar para ibu meningkatkan kualitas dirinya baik dalam mendidik generasi masa depan, maupun berperan di ranah publik. Dalam kesempatan yang berbeda, kalimat senada juga disampaikan oleh tokoh lainnya seperti GKR Hemas, Ngarsa Dalem, dan bahkan Presiden Joko Widodo. Pendidikan yang diberikan seorang ibu kepada para generasi muda disebut Presiden sebagai modal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju. (http://presidenri.go.id ).

Hanya saja, tentunya tak hanya kalimat motivasi yang dibutuhkan. Lebih dari itu, para ibu memerlukan dukungan nyata berupa paket kebijakan yang selaras dengan peran strategisnya dalam mendidik generasi era kini. Sangatlah membahagiakan para ibu kiranya liberalisasi ekonomi dapat disterilkan dari negeri tercinta. Yang dengannya negeri kaya ini tak akan termiskinkan. Dampak lanjutnya, ketercukupan kebutuhan mendasar maupun pelengkap dapat diwujudkan. Oleh karenanya, tidak akan lagi dijumpai para perempuan berjibaku dengan kerasnya dunia kerja karena keterdesakan ekonomi. Kiprah perempuan akan dikembangkan di ranah public sebagai pertanggungjawaban keilmuannya untuk memajukan bangsa. Lagi, bukan karena ‘kepepet butuh’.

Sangatlah membahagiakan para ibu kiranya berbagai tayangan media (baik media elektronik, media cetak maupun media sosial) dapat menguatkan imtak dan iptek generasi. Bukan justru banyak dihiasi adegan tidak edukatif (kekerasan, pornografi, dll). Dan tentu saja sangatlah membahagiakan jika kurikulum pendidikan tidak berorientasi pada pasar bebas. Lebih dari itu, selayaknya dapat diarahkan dalam rangka membantu problem nyata bangsa seperti, kemiskinan, pengangguran, kemacetan, dan lain sebagainya. Ah, betapa bahagianya ketika pemerintah menjadi partner ibu mewujudkan edukasi berkualitas demi kemajuan negeri ini. Bukan justru sebaliknya.

Oleh Mayangsari Rahayu (Pemerhati Perempuan, Keluarga dan Generasi)

==========

Demikian pembahasannya, silahkan share guna menebar manfaat!

 

Baca juga artikel berikut :