Hukum Menggunakan Al Qur’an Seluler

Tidak bisa kita pungkiri, dengan seiringnya waktu kemajuan teknologi akan semakin berkembang. Bahkan saat ini telah ada aplikasi seluler yang berwujud dan berisi layaknya Al Qur’an cetak. Secara singkat, hal ini tentu sangat membantu dan mempermudah kita apabila bepergian. Dan tak perlu repot-repot lagi membawa Al Qur’an di dalam ransel.

Lalu bagaimana sebenarnya hukum menggunakan Al Qur’an seluler ini? Dan bagaimana sikap kita dalam memperlakukannya? Nah, lebih jelasnya mari kita simak ulasan artikel di bawah ini. Yang mana dilengkapi dengan dalil Al Qur’an dan hadist.

Aplikasi Al Qur'an seluler, foto: okezone.com
Aplikasi Al Qur’an seluler, foto: okezone.com

Tanya :

Ustadz, bagaimana hukum perlakuan terhadap Al Qur’an seluler, apakah sama dengan mushaf Al Qur’an dari kertas?

Aris, Bogor

Jawab :

Al Qur’an seluler adalah program Al Qur’an dalam memori telepon seluler yang dapat diaktifkan sehingga dapat dibaca dan/atau dapat pula mengeluarkan rekaman suara seorang Qari` yang membacakan ayat-ayatnya.

Hukum seputar Al Qur’an seluler ini termasuk masalah baru, sehingga pembahasan fiqihnya tak dapat ditemukan secara langsung dalam kitab-kitab ulumul Qur`an klasik, seperti Al Mashahif karya Imam Sijistani (w. 316 H), At Tibyan fi Adab Hamalatil Qur`an karya Imam Nawawi (w. 676 H), Al Burhan fi Ulumil Qur`an karya Imam Zarkasyi (w. 794 H), dan Al Itqan fi Ulumil Qur`an karya Imam Suyuthi (w. 911 H).

Bahkan pembahasannya juga belum disinggung dalam kitab-kitab ulumul Qur`an kontemporer, seperti Faidhur Rahman fi Al Ahkam Al Fiqhiyyah Al Khaashah bil Qur`an karya Ahmad Saalim Malham (2001), Ar Ruuh wa Ar Raihan fi Fadha`il wa Ahkam Al Mashahif wa Al Qur`an karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim (2003), dan Al Mut-haf fi Ahkam Al Mushaf karya Shalih Muhammad Rasyid (2003).

Namun belakangan beberapa ulama kontemporer mencoba membahasnya, seperti Abdul Aziz Hajilan dalam kitabnya Al Ahkam Al Fiqhiyyah Al Khaashah bil Qur`an (2004) dan Fahad Abdurrahman Yahya dalam kitabnya Takhzin Al Qur`an Al Karim fi Al Jawwaal wa Maa Yata’alaqu bihi min Masa`il Fiqhiyyah (2010).

Al Qur'an cetak dan Al Qur'an seluler, foto: voa-islam.com
Al Qur’an cetak dan Al Qur’an seluler, foto: voa-islam.com

Metode pembahasannya sebenarnya bukan ijtihad atau qiyas, melainkan apa yang disebut dengan “takhrij al furuu’ ala al ushuul” (mengeluarkan hukum cabang dari hukum pokok), atau “tathbiq al hukm ‘ala al masa`il allaty tandariju tahtahu.” (menerapkan hukum yang sudah ada, pada masalah-masalah baru yang merupakan derivat/turunan dari hukum yang sudah ada). (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 1/203-205).

Di antara hukum syara’ terkait Al Qur’an seluler dalam kitab-kitab tersebut sbb:

Pertama, kapan program Al Qur’an seluler dihukumi sebagai mushaf Al Qur’an? Fahad Abdurrahman Yahya mengatakan program Al Qur’an seluler yang non aktif, dianggap sama dengan mushaf Al Qur’an yang masih tertutup (tak dibuka).

Maka program non aktif tersebut tak dihukumi sebagai mushaf Al Qur’an, sehingga tak disyaratkan bersuci (thaharah) dari hadats besar atau hadats kecil bagi Muslim yang menyentuh ponsel dengan program tersebut. Dalam hal ini para ulama kontemporer tak ada perbedaan pendapat. (Fahad Abdurrahman Yahya, Takhzin Al Qur`an Al Karim fi Al Jawwaal, hlm. 47).

Adapun jika program Al Qur’an selulernya dalam keadaan aktif, yaitu ketika tampak gambar ayat Al Qur’an dalam layar ponsel, maka ia dianggap sama dengan mushaf Al Qur’an yang lembarannya sudah dibuka. Maka dari itu, program aktif tersebut dihukumi sama dengan mushaf Al Qur’an.

Al Qur'an seluler yang bisa dibawa kemana saja dan dibaca kapan saja, foto: screenshots
Al Qur’an seluler yang bisa dibawa kemana saja dan dibaca kapan saja, foto: screenshots

Di sinilah kemudian diberlakukan hukum-hukum syara’ seputar mushaf Al Qur’an, misalnya hukum menyentuh mushaf, hukum membawa mushaf ke dalam toilet (al khala`), dsb. (Fahad Abdurrahman Yahya, Takhzin Al Qur`an Al Karim fi Al Jawwaal, hlm. 47).

Kedua, jika program Al Qur’an selulernya dalam keadaan aktif, apakah disyaratkan thaharah bagi Muslim yang menyentuh ponsel dengan program itu? Di sini ada tafshil (rincian) hukumnya; jika yang disentuh bukan layar monitornya, tapi bagian perangkat ponsel lainnya, seperti tepian layar monitor atau tombol-tombol huruf padakeypad, tidak disyaratkan thaharah.

Sebab dapat diterapkan di sini hukum tak wajibnya thaharah jika seorang Muslim menyentuh mushaf dengan penghalang (ha`il) seperti tali gantungan atau kulit/cover mushaf, atau jika menyentuh kitab tafsir Al Qur’an yang mengandung ayat dan tafsirnya.

Baca Juga: Wanita Haidh Membaca Alquran Melalui Ponsel, Bagaimana Hukumnya?

Adapun jika yang disentuh adalah layar monitornya secara langsung (misal pada layar touchscreen), disyaratkan wajib thaharah. Sebab di sini diterapkan hukum wajibnya thaharah bagi yang menyentuh mushaf secara langsung (tanpa penghalang). (Fahad Abdurrahman Yahya, Takhzin Al Qur`an Al Karim fi Al Jawwaal, hlm. 92). 

Wallahu a’lam.


Terimakasih sudah membaca artikel yang berjudul “Hukum Menggunakan Al Qur’an Seluler”. Kami dari anaksholeh.net telah menambahkan gambar, link, featured image, perbaikan alenia, perbaikan pada judul dan pemberian pembuka serta penutup agar lebih menarik. Jika artikel ini dirasa bermanfaat, silahkan share melalui sosial media.

Catatan kaki:

Sumber : Tabloid MU edisi 112