Sedekah Laut Dalam Pandangan Islam

Sedekah laut merupakan tradisi peninggalan nenek moyang di masa lalu yang pada saat ini di sebagian tempat masih rutin dilaksanakan. Beberapa daerah yang masih melangsungkan agenda ini adalah Demak di Jawa Tengah serta DIY. Ada yang mengatakan tujuan dari sedekah laut itu, tidak lain sebagai wujud syukur nelayan atas melimpahnya hasil laut.

Dalam tradisi ini biasanya ada tumpeng yang kemudian dilarung ke tengah laut. Selain ritual  melarung sesajen ke tengah laut, akan ada beberapa rangkaian acara lain seperti pergelaran wayang kulit, rebana, pasar malam tradisional, dan berbagai pagelaran seni khas daerahnya.

Fakta Sedekah Laut

Sedekah Laut
Bentuk sesajen. Sumber Kumparan

Penyelenggaraan sedekah laut memang dikemas sebagai acara syukuran karena adanya nikmat berupa hasil laut. Namun pada kenyataannya ada beberapa ritual persembahan yang di sajikan kepada penguasa laut, dalam hal ini adalah jin. Dalam ritual tersebut, berbagai sesajen dilarung ke laut dan memang dipersembahkan kepada penunggu laut.

Hal tersebut tentu menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat muslim. Bahkan sedekah laut yang akan digelar di Pantai Baru, Bantul, Yogyakarta beberapa waktu lalu dibubarkan. Sekelompok orang membubarkan bahkan merusak properti sedekah laut. Pembubaran sedekah laut ini pun menjadi debatan publik di Yogyakarta.

Biasanya masyarakat yang setuju dengan acara sedekah laut adalah kalangan abangan yang memang tidak begitu ketat dalam mengamalkan ajaran agama. Selain itu dari sisi ekonomi, pemerintah daerah biasanya mendukung acara seperti itu untuk menarik minat wisatawan mancanegar dan lokal. Berbagai penyedia jasa perjalanan wisata seperti Yogyakarta tours menawarkan keindahan pantai dan juga ritual adatnya sebagai daya tarik wisatawan mancanegara.

Pandangan Syariat

Sebenarnya ritual memberikan sejajen dalam bentuk apapun kepada gunung, laut, batu atau pohon bukanlah ajaran Islam, meskipun sebagianumat Islam masih menjalankannya. Adanya unsur kesyirikan yang merupakan larangan terbesar dalam Islammenjadi alasan utama, mengapa ritual tersebut sebaiknya dilarang.

Dalam AL-Quran dijelaskan bahwa kepada Allah saja hamba melakukan qurban. Allah berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (Qs. al-An’aam: 162-163).

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini bahwa termasuk orang musyrik yang menyembelih kepada selain Allah, beliau berkata:

“Allah memberintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberi tahu kepada orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah dan menyembelih dengan tidak menyebut nama Allah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi mereka (tidak sesuai dengan ajaran Islam).” (Tafsir Ibnu Katsir)

Karena itu menyembelih untuk selain Allah dengan menyebutkan nama pengunggu gunung atau penunggu laut kemudian kepala kerbau tersebut ditaruh di gunung, ditanam atau dihanyutkan ke laut. Memberikan persembahan seperti sesajen atau tumbal merupakan jenis ibadah. Hal ini hanya hak Allah semata dan hanya ditujukan kepada Allah saja bukan kepada makhluk hidup lainnya apalagi benda mati.

Ada sebuah hadits yang menunjukkan seseorang masuk neraka hanya karena berqurban dengan seekor lalat saja. Perhatikan hadits berikut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ , ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺫَﻟِﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮَّ ﺭَﺟُﻼَﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻟَﻬُﻢْ ﺻَﻨَﻢٌ ﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُﻩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺮِّﺏَ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻷَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻴْﺲَ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃُﻗَﺮِّﺏُ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟَﻪُ : ﻗَﺮِّﺏْ ﻭَﻟَﻮْ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ، ﻓَﻘَﺮَّﺏَ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ ﻓَﺨَﻠُّﻮْﺍ ﺳَﺒِﻴْﻠَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ، ﻭَﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟِﻶﺧَﺮِ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﻷُﻗَﺮِّﺏَ ﻷﺣَﺪٍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻀَﺮَﺑُﻮْﺍ ﻋُﻨُﻘَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ

“Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat pula.”

Para sahabat bertanya: “Bagaimana itu bisa terjadi ya Rasulullah?

Rasul menjawab: “Ada dua orang berjalan melewati sebuah kaum yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorangpun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sesuatu untuknya terlebih dahulu, maka mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi: “Persembahkanlah sesuatu untuknya!” Ia menjawab: “Saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan”, mereka berkata lagi: “Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!” Maka iapun mempersembahkan untuknya seekor lalat, maka mereka membiarkan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan iapun masuk ke dalam neraka. Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain: “Persembahkalah untuknya sesuatu!” Ia menjawab: “Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah, maka merekapun memenggal lehernya, dan iapun masuk ke dalam surga” (HR. Ahmad).

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al Maidah: 72).

Sedekah Laut
Sedekah laut. Sumber Islampers

Kesimpulan

Bersandarakan berbagai dalil yang telah diuraikan diatas, maka sedekah laut yang selama ini dilaksanakan dan diyakini sebagai persembahan kepada penguasa laut adalah bentuk kesyirikan. Untuk berdakwah dengan memadukan adat setempat sebenarnya sudah dicontohkan oleh pada wali jaman dahulu. Mereka masih bisa memadukan budaya lokal untuk berdakwah tanpa harus mengancam aqidah masyarakat. Oerlu dibahas lebih mendalam untukpelaksanaan syukuran para nelayan ini agar syukuran tetap terlaksana dan aqidah masyarakat tetap terjaga.

Leave a Comment